Namaku Pricillia Febrina Putri. Semua orang biasa menyapaku dengan sebutan Sisil. Kehidupanku bisa dibilang serba ada. Empat tahun lalu, ayahku baru membeli rumah elit dikawasan kota Bogor, saat ini aku pun menetap dikota hujan, Bogor bersama ayah, bunda serta dua kakak laki-lakiku.
Hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke 19 tahun. Keseharianku hanya kuliah disebuah Universitas Swasta dikota Bogor. Aku mengambil jurusan Akuntansi. Usia 19 bagiku hanya usia biasa. Tak ada yang spesial dihari ulang tahunku. Ayah, bunda, kak Hafif, kakak pertamaku, dan kak Azfar, kakak keduaku. Mereka hanya memberiku ucapan serta hadiah yang sangat ku sukai. Sejak tiga tahun yang lalu, setiap ulang tahun, aku hanya menanti ucapan dan hadiah dari seorang kekasih. Tapi, sampai saat ini diusiaku yang ke 19 tahun, aku tak kunjung mendapat apa yang ku inginkan.
Semua teman-temanku bilang, aku gadis yang pendiam, pintar, tertutup, dan kuper. Mungkin karena kepribadianku yang seperti itu, semua lelaki tak ada yang jatuh cinta padaku.
Tiap kali aku berlutut, aku berdo’a agar ada seorang laki-laki yang jatuh cinta padaku. Tapi, sampai saat ini, tak ada satu pun yang jatuh hati padaku. Yang ada hanya aku yang jatuh cinta pada laki-laki dan selalu saja cintaku bertepuk sebelah tangan.
Aku memiliki rambut berbentuk ikal dan berwarna hitam panjang. Kulitku putih karena ayahku keturunan Belanda. Tubuhku tak cukup bagus. Biasalah keturunan Belanda. Dan aku mengenakan kacamata minus.
Akhir-akhir ini aku sering mengalami pusing. Kepalaku rasanya mau pecah saja. Kadang tak tahan menahan rasa sakit dikepalaku. Tapi, ketika aku memandang sebuah foto yang tepajang indah dibingkai berwarna biru diatas meja belajarku, rasa sakit dikepalaku seakan-akan bisa sembuh. Entah mengapa, aku sangat menyayangi laki-laki yang bernama Valentino Azka Putra. Semua orang biasa menyapanya dengan sebutan Valen. Meski namanya kelihatan beragama Kristen, tapi dia bukan beragama Kristen, dia beragama Islam, sama denganku.
Valen, cowok yang suka banget main bulu tangkis disekolahku dulu. Aku kagum dengannya. Suka memperhatikan dia ketika sedang bermain bulu tangkis. Aku banyak memiliki foto dia saat dulu kenangan masa SMU.
Aku masih berteman baik dengannya, meski tak dekat banget saat SMU dulu, tapi aku bahagia bisa mengenalnya, kadang mengobrol dengannya. Sungguh indah kenangan itu. Aku pun jatuh cinta dengannya saat aku duduk dibangku kelas 3 SMU. Saat kelulusan tiba, aku menyatakan perasaanku padanya, aku takut banget kehilangan dia, tapi, dia tak bisa menjawab satu kata pun yang selalu ku tunggu. Karena dia selalu menghindar apabila aku menyatakan perasaanku.
Cintaku ini terlalu dalam untuknya. Perpisahan kelulusan membuat aku semakin sedih karena aku benar-benar kehilangan seorang Valen. Valen melanjutkan kuliah di Jakarta. Hidupku terasa hampa tanpa dirinya. Aku hanya terus menunggunya dikota Bogor sewaktu nanti ia kembali ke kota asalnya. Menunggu membuatku sakit, lemah, tak berdaya. Aku selalu ditemani dengan air mata dan cinta yang tak terbalas. Bahkan dihari ulang tahunku, aku menunggu kedatangannya dikota Bogor.
Saat hujan turun, aku selalu menggoreskan kata-kata indah dipapan tulis yang berada dikamarku.
*Sampai kapanku aku akan tetap menunggumu........meski harus ku tunggu sampai nafas ini terhenti......aku takkan lelah menunggumu........karena aku sangat mencintaimu........*
Entah mengapa, ayah dan bunda ingin memperkenalkan aku dengan seorang laki-laki yang sudah sarjana S1 lulusan komunikasi. Mungkin, karena aku tak pernah mengenal istilah pacaran sejak SMU dulu.
Aku selalu menolak bila diperkenalkan oleh seorang laki-laki pilihan ayahku karena aku tak mau menghianati cinta Valen. Cinta Valen selalu ku jaga didalam lubuk hati yang paling dalam.
Aku tak pernah bercerita pada bunda. Tapi, aku selalu bercerita kepada kakak pertamaku, kak Hafif. Semua yang aku rasakan sejak dulu SMP, SMU maupun sampai sekarang, kak Hafif tau semuanya tentang diriku. Karena sejak dulu, ayah dan bunda selalu sibuk mengurusi bisnis keluarga.
Kak Hafif, pemuda yang sangat baik, tampan dan bertubuh tinggi, idaman semua kaum hawa. Tapi, sampai saat ini, dia belum menemukan calon pasangan yang tepat. Padahal umurnya sudah cukup untuk berumah tangga. Saat ini umurnya 25 tahun.
Aku menggoreskan tinta dipapan tulis yang berada dikamarku. Semua yang ku rasakan selalu ku tulis dipapan tulis yang sejak SMP berada disamping lemari pakaianku. Papan tulis itu hadiah kelulusan SD. Kak Hafif yang memberikan hadiah itu.
*aku tak pernah berfikir mencintaimu hanya sekejap....
mungkin, awal ku bertemu denganmu tak seindah yang kau bayangkan, bagiku pertemuan kita sangat indah.... ku menyukaimu saat kau memenangkan lomba bulu tangkis antar sekolah....
kau pahlawanku..... kau pujaan hatiku.... kau segalanya bagiku....
aku sangat menyayangimu meski aku harus menunggu sampai kau benar-benar menjadi milikku suatu saat nanti......*
Tiba-tiba sakit kepalaku menyerang sangat hebat. Aku tak kuat menahan rasa sakit itu. Aku pun berbaring ditempat tidurku sambil memandang sebuah foto, siapa lagi kalau bukan foto pujaan hatiku, Valen. Aku sangat merindukan sosoknya saat bermain bulu tangkis. Aku mengenangnya sambil memejamkan mata.
***
Hari pun telah berganti. Hafif mengetuk pintu kamar adiknya, Sisil. Tak ada jawaban sedikitpun, ia pun langsung membuka pintu kamar adiknya. ”Sisil.... udah pagi, kamu gak kuliah? kemarin, kenapa seharian dikamar aja? kemarin kan hari ulang tahunmu, apa karena seharian hujan terus?” Hafif menghampiri adiknya yang sedang berbaring dikamar sambil mendekap sebuah bingkai foto.
Hafif pun mengambil sebuah bingkai foto. Ia sudah mengetahui kalau adik perempuannya sangat mencintai Valen. ”Sisil.... bangun dong....”
Tiba-tiba, hidungnya keluar banyak darah. Hafif pun panik. Ia segera membawa adiknya ke rumah sakit terdekat.
Sisil terbaring lemah ditempat tidur. Ayah dan bunda hanya bisa menangis ketika dokter berkata kalau pembuluh darah diotak Sisil sudah pecah, entah sampai kapan Sisil harus bertahan. Sedangkan Hafif dan Azhar duduk diruang tunggu sambil menangis.
”dia kan dekat banget sama kak Hafif, kenapa kak Hafif bisa gak mengetahui yang dia sedang alami, kak?” tanya Azfar.
”dia hanya cerita tentang cinta yang dia alami aja, far... dia gak pernah cerita soal penyakit yang dideritanya, gak pernah... cuma waktu itu dia bilang, dia pusing banget, dia pengen periksa matanya lagi ke dokter karena dia takut minusnya bertambah lagi, saat itu kakak juga tawarin dia, kalau mau periksa mata ke dokter, kakak temenin, tapi, dia gak pernah mau kakak temenin untuk periksa matanya, dia gak mempedulikan semua itu, yang selalu dia pedulikan hanya perasaannya pada Valen, selalu Valen” cerita Hafif.
”kita harus kasih tau Valen, kak... dimana sekarang dia berada? Siapa Valen? Aku gak pernah tau pemuda itu yang membuat adikku jadi seperti ini” Azfar khawatir.
”kakak sama sekali gak tau dia berada dimana, dia hanya tinggal di Jakarta, alamat rumahnya yang dulu di Bogor aja, kakak gak tau, yang penting, sekarang kita harus pikirin kesehatan Sisil, itu aja...”
Hafif memandang wajah adik perempuannya. ”Sisil... kakak kangen kamu saat kamu berbicara, saat kamu tersenyum, saat kamu menulis dipapan tulis pemberian kakak, apa yang telah kamu tulis, sil? Kakak belum sempat melihat isi hatimu dipapan tulis kesayanganmu itu, maafin kakak kalau kemarin-kemarin selalu sibuk, jarang memperhatikan kamu yang seharusnya butuh banyak perhatian” air mata Hafif menetes.
Azfar meneteskan air matanya diruang tunggu. ”ini pelajaran buat ayah dan bunda yang gak pernah memperhatikan anak perempuan satu-satunya, selalu bisnis keluarga, pulang selalu malam, jarang memperhatikan anaknya, meski anaknya udah dewasa, tetap harus diperhatiin dong.... jangan sibuk urusan masing-masing, kasihan Sisil...”
”maafin bunda, far.... bunda salah.... bunda gak tau kalau akibatnya jadi seperti ini” aku bunda.
”kalau aku, aku kan sibuk mengurusi kuliahku yang sebentar lagi mau skripsi, jarang aku ada dirumah, bun.... kalau kak Hafif, dia kerja, kadang-kadang saja perhatiin Sisil....” ujar Azfar.
Hafif berlari kecil keluar dari kamar bernomor 1 ruang Kemuning itu. ”dokter.... dokter.....” Hafif memanggil dokter. Mereka semua panik dengan keadaan Sisil. Dokter pun memeriksa keadaan Sisil. Sedangkan mereka hanya menunggu diruang tunggu.
Dokter pun keluar dari kamar setelah memeriksa keadaan Sisil. Wajah dokter lemas. ”maaf, saya tidak bisa menyelamatkan Sisil.... Sisil telah meninggal dunia”
Tangisan menyelimuti keluarga Sisil. Mereka begitu terpukul begitu mendengar Sisil telah meninggal dunia.
Disebuah rumah yang cukup mewah. Warga mengiringi kepergian Sisil dengan banyak do’a.
Hafif berada dikamar Sisil. Ia melihat sebuah tulisan yang ditulis oleh adiknya. Semua yang ditulis dipapan tulis adalah tentang isi hati Sisil. Tulisan tangannya begitu indah.
Didepan rumah Sisil, seorang pemuda turun dari sebuah motor ninja. Wajahnya yang tadi penuh dengan senyuman, tiba-tiba berubah menjadi bingung. ”siapa yang meninggal?” pemuda bertubuh tinggi itu pun langsung masuk ke dalam rumah Sisil. ”assalamu’alaikum.....”
Hafif melihat seorang pemuda yang wajahnya tak asing lagi baginya. Wajah pemuda itu sama dengan foto yang berbingkai indah dikamar Sisil. ”Valen?” Hafif menghampiri pemuda itu. ”permisi, nyari siapa, mas?”
”kenalin, saya Valen, teman SMU Sisil, Sisilnya ada, kak? terus, ini siapa yang meninggal?” tanya Valen.
”saya Hafif, kakak pertamanya Sisil, kita mengobrol dikamar Sisil aja...” Hafif mengajak Valen kekamar Sisil.
”kenapa saya harus kekamar Sisil? Sisilnya mana, kak?” Valen bingung.
”kamu lihat tulisan yang berada dipapan tulis ini, ini semua isi hati Sisil, kamu tau kalau Sisil selalu menunggumu?” kata Hafif.
Valen menangis. Ia sangat sedih membaca tulisan yang ditulis Sisil dipapan tulis. ”aku mau ketemu Sisil, mau menjelaskan semuanya agar dia gak pernah menungguku lagi, kak...”
”sudah terlambat, lebih baik kamu perbanyak do’a, Sisil telah meninggal dunia karena pembuluh darah diotaknya pecah, ia tak bisa bertahan lagi” ujar Hafif.
Valen begitu terpukul. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi setelah melihat jenazah Sisil tengah dibacakan ayat-ayat suci al qur’an. ”Sisil.... maafin aku telah membuat kamu menungguku begitu lama.....”
Hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke 19 tahun. Keseharianku hanya kuliah disebuah Universitas Swasta dikota Bogor. Aku mengambil jurusan Akuntansi. Usia 19 bagiku hanya usia biasa. Tak ada yang spesial dihari ulang tahunku. Ayah, bunda, kak Hafif, kakak pertamaku, dan kak Azfar, kakak keduaku. Mereka hanya memberiku ucapan serta hadiah yang sangat ku sukai. Sejak tiga tahun yang lalu, setiap ulang tahun, aku hanya menanti ucapan dan hadiah dari seorang kekasih. Tapi, sampai saat ini diusiaku yang ke 19 tahun, aku tak kunjung mendapat apa yang ku inginkan.
Semua teman-temanku bilang, aku gadis yang pendiam, pintar, tertutup, dan kuper. Mungkin karena kepribadianku yang seperti itu, semua lelaki tak ada yang jatuh cinta padaku.
Tiap kali aku berlutut, aku berdo’a agar ada seorang laki-laki yang jatuh cinta padaku. Tapi, sampai saat ini, tak ada satu pun yang jatuh hati padaku. Yang ada hanya aku yang jatuh cinta pada laki-laki dan selalu saja cintaku bertepuk sebelah tangan.
Aku memiliki rambut berbentuk ikal dan berwarna hitam panjang. Kulitku putih karena ayahku keturunan Belanda. Tubuhku tak cukup bagus. Biasalah keturunan Belanda. Dan aku mengenakan kacamata minus.
Akhir-akhir ini aku sering mengalami pusing. Kepalaku rasanya mau pecah saja. Kadang tak tahan menahan rasa sakit dikepalaku. Tapi, ketika aku memandang sebuah foto yang tepajang indah dibingkai berwarna biru diatas meja belajarku, rasa sakit dikepalaku seakan-akan bisa sembuh. Entah mengapa, aku sangat menyayangi laki-laki yang bernama Valentino Azka Putra. Semua orang biasa menyapanya dengan sebutan Valen. Meski namanya kelihatan beragama Kristen, tapi dia bukan beragama Kristen, dia beragama Islam, sama denganku.
Valen, cowok yang suka banget main bulu tangkis disekolahku dulu. Aku kagum dengannya. Suka memperhatikan dia ketika sedang bermain bulu tangkis. Aku banyak memiliki foto dia saat dulu kenangan masa SMU.
Aku masih berteman baik dengannya, meski tak dekat banget saat SMU dulu, tapi aku bahagia bisa mengenalnya, kadang mengobrol dengannya. Sungguh indah kenangan itu. Aku pun jatuh cinta dengannya saat aku duduk dibangku kelas 3 SMU. Saat kelulusan tiba, aku menyatakan perasaanku padanya, aku takut banget kehilangan dia, tapi, dia tak bisa menjawab satu kata pun yang selalu ku tunggu. Karena dia selalu menghindar apabila aku menyatakan perasaanku.
Cintaku ini terlalu dalam untuknya. Perpisahan kelulusan membuat aku semakin sedih karena aku benar-benar kehilangan seorang Valen. Valen melanjutkan kuliah di Jakarta. Hidupku terasa hampa tanpa dirinya. Aku hanya terus menunggunya dikota Bogor sewaktu nanti ia kembali ke kota asalnya. Menunggu membuatku sakit, lemah, tak berdaya. Aku selalu ditemani dengan air mata dan cinta yang tak terbalas. Bahkan dihari ulang tahunku, aku menunggu kedatangannya dikota Bogor.
Saat hujan turun, aku selalu menggoreskan kata-kata indah dipapan tulis yang berada dikamarku.
*Sampai kapanku aku akan tetap menunggumu........meski harus ku tunggu sampai nafas ini terhenti......aku takkan lelah menunggumu........karena aku sangat mencintaimu........*
Entah mengapa, ayah dan bunda ingin memperkenalkan aku dengan seorang laki-laki yang sudah sarjana S1 lulusan komunikasi. Mungkin, karena aku tak pernah mengenal istilah pacaran sejak SMU dulu.
Aku selalu menolak bila diperkenalkan oleh seorang laki-laki pilihan ayahku karena aku tak mau menghianati cinta Valen. Cinta Valen selalu ku jaga didalam lubuk hati yang paling dalam.
Aku tak pernah bercerita pada bunda. Tapi, aku selalu bercerita kepada kakak pertamaku, kak Hafif. Semua yang aku rasakan sejak dulu SMP, SMU maupun sampai sekarang, kak Hafif tau semuanya tentang diriku. Karena sejak dulu, ayah dan bunda selalu sibuk mengurusi bisnis keluarga.
Kak Hafif, pemuda yang sangat baik, tampan dan bertubuh tinggi, idaman semua kaum hawa. Tapi, sampai saat ini, dia belum menemukan calon pasangan yang tepat. Padahal umurnya sudah cukup untuk berumah tangga. Saat ini umurnya 25 tahun.
Aku menggoreskan tinta dipapan tulis yang berada dikamarku. Semua yang ku rasakan selalu ku tulis dipapan tulis yang sejak SMP berada disamping lemari pakaianku. Papan tulis itu hadiah kelulusan SD. Kak Hafif yang memberikan hadiah itu.
*aku tak pernah berfikir mencintaimu hanya sekejap....
mungkin, awal ku bertemu denganmu tak seindah yang kau bayangkan, bagiku pertemuan kita sangat indah.... ku menyukaimu saat kau memenangkan lomba bulu tangkis antar sekolah....
kau pahlawanku..... kau pujaan hatiku.... kau segalanya bagiku....
aku sangat menyayangimu meski aku harus menunggu sampai kau benar-benar menjadi milikku suatu saat nanti......*
Tiba-tiba sakit kepalaku menyerang sangat hebat. Aku tak kuat menahan rasa sakit itu. Aku pun berbaring ditempat tidurku sambil memandang sebuah foto, siapa lagi kalau bukan foto pujaan hatiku, Valen. Aku sangat merindukan sosoknya saat bermain bulu tangkis. Aku mengenangnya sambil memejamkan mata.
***
Hari pun telah berganti. Hafif mengetuk pintu kamar adiknya, Sisil. Tak ada jawaban sedikitpun, ia pun langsung membuka pintu kamar adiknya. ”Sisil.... udah pagi, kamu gak kuliah? kemarin, kenapa seharian dikamar aja? kemarin kan hari ulang tahunmu, apa karena seharian hujan terus?” Hafif menghampiri adiknya yang sedang berbaring dikamar sambil mendekap sebuah bingkai foto.
Hafif pun mengambil sebuah bingkai foto. Ia sudah mengetahui kalau adik perempuannya sangat mencintai Valen. ”Sisil.... bangun dong....”
Tiba-tiba, hidungnya keluar banyak darah. Hafif pun panik. Ia segera membawa adiknya ke rumah sakit terdekat.
Sisil terbaring lemah ditempat tidur. Ayah dan bunda hanya bisa menangis ketika dokter berkata kalau pembuluh darah diotak Sisil sudah pecah, entah sampai kapan Sisil harus bertahan. Sedangkan Hafif dan Azhar duduk diruang tunggu sambil menangis.
”dia kan dekat banget sama kak Hafif, kenapa kak Hafif bisa gak mengetahui yang dia sedang alami, kak?” tanya Azfar.
”dia hanya cerita tentang cinta yang dia alami aja, far... dia gak pernah cerita soal penyakit yang dideritanya, gak pernah... cuma waktu itu dia bilang, dia pusing banget, dia pengen periksa matanya lagi ke dokter karena dia takut minusnya bertambah lagi, saat itu kakak juga tawarin dia, kalau mau periksa mata ke dokter, kakak temenin, tapi, dia gak pernah mau kakak temenin untuk periksa matanya, dia gak mempedulikan semua itu, yang selalu dia pedulikan hanya perasaannya pada Valen, selalu Valen” cerita Hafif.
”kita harus kasih tau Valen, kak... dimana sekarang dia berada? Siapa Valen? Aku gak pernah tau pemuda itu yang membuat adikku jadi seperti ini” Azfar khawatir.
”kakak sama sekali gak tau dia berada dimana, dia hanya tinggal di Jakarta, alamat rumahnya yang dulu di Bogor aja, kakak gak tau, yang penting, sekarang kita harus pikirin kesehatan Sisil, itu aja...”
Hafif memandang wajah adik perempuannya. ”Sisil... kakak kangen kamu saat kamu berbicara, saat kamu tersenyum, saat kamu menulis dipapan tulis pemberian kakak, apa yang telah kamu tulis, sil? Kakak belum sempat melihat isi hatimu dipapan tulis kesayanganmu itu, maafin kakak kalau kemarin-kemarin selalu sibuk, jarang memperhatikan kamu yang seharusnya butuh banyak perhatian” air mata Hafif menetes.
Azfar meneteskan air matanya diruang tunggu. ”ini pelajaran buat ayah dan bunda yang gak pernah memperhatikan anak perempuan satu-satunya, selalu bisnis keluarga, pulang selalu malam, jarang memperhatikan anaknya, meski anaknya udah dewasa, tetap harus diperhatiin dong.... jangan sibuk urusan masing-masing, kasihan Sisil...”
”maafin bunda, far.... bunda salah.... bunda gak tau kalau akibatnya jadi seperti ini” aku bunda.
”kalau aku, aku kan sibuk mengurusi kuliahku yang sebentar lagi mau skripsi, jarang aku ada dirumah, bun.... kalau kak Hafif, dia kerja, kadang-kadang saja perhatiin Sisil....” ujar Azfar.
Hafif berlari kecil keluar dari kamar bernomor 1 ruang Kemuning itu. ”dokter.... dokter.....” Hafif memanggil dokter. Mereka semua panik dengan keadaan Sisil. Dokter pun memeriksa keadaan Sisil. Sedangkan mereka hanya menunggu diruang tunggu.
Dokter pun keluar dari kamar setelah memeriksa keadaan Sisil. Wajah dokter lemas. ”maaf, saya tidak bisa menyelamatkan Sisil.... Sisil telah meninggal dunia”
Tangisan menyelimuti keluarga Sisil. Mereka begitu terpukul begitu mendengar Sisil telah meninggal dunia.
Disebuah rumah yang cukup mewah. Warga mengiringi kepergian Sisil dengan banyak do’a.
Hafif berada dikamar Sisil. Ia melihat sebuah tulisan yang ditulis oleh adiknya. Semua yang ditulis dipapan tulis adalah tentang isi hati Sisil. Tulisan tangannya begitu indah.
Didepan rumah Sisil, seorang pemuda turun dari sebuah motor ninja. Wajahnya yang tadi penuh dengan senyuman, tiba-tiba berubah menjadi bingung. ”siapa yang meninggal?” pemuda bertubuh tinggi itu pun langsung masuk ke dalam rumah Sisil. ”assalamu’alaikum.....”
Hafif melihat seorang pemuda yang wajahnya tak asing lagi baginya. Wajah pemuda itu sama dengan foto yang berbingkai indah dikamar Sisil. ”Valen?” Hafif menghampiri pemuda itu. ”permisi, nyari siapa, mas?”
”kenalin, saya Valen, teman SMU Sisil, Sisilnya ada, kak? terus, ini siapa yang meninggal?” tanya Valen.
”saya Hafif, kakak pertamanya Sisil, kita mengobrol dikamar Sisil aja...” Hafif mengajak Valen kekamar Sisil.
”kenapa saya harus kekamar Sisil? Sisilnya mana, kak?” Valen bingung.
”kamu lihat tulisan yang berada dipapan tulis ini, ini semua isi hati Sisil, kamu tau kalau Sisil selalu menunggumu?” kata Hafif.
Valen menangis. Ia sangat sedih membaca tulisan yang ditulis Sisil dipapan tulis. ”aku mau ketemu Sisil, mau menjelaskan semuanya agar dia gak pernah menungguku lagi, kak...”
”sudah terlambat, lebih baik kamu perbanyak do’a, Sisil telah meninggal dunia karena pembuluh darah diotaknya pecah, ia tak bisa bertahan lagi” ujar Hafif.
Valen begitu terpukul. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi setelah melihat jenazah Sisil tengah dibacakan ayat-ayat suci al qur’an. ”Sisil.... maafin aku telah membuat kamu menungguku begitu lama.....”

0 komentar:
Posting Komentar