Senin, 25 April 2011, sekitar pukul setengah enaman sore, waktu itu aku sedang menyuapi keponakanku yang pertama, Azid. Memang pada saat itu azid sedang diluar bermain dengan teman-temannya. Keadaan kakak juga kurang sehat, begitu juga dengan afar, keponakanku yang kedua, afar juga demam serta pilek. Aku melihat jelas kejadiannya, afar, tiba-tiba lemas, ia terjatuh duduk lalu terlentang dan membentur kepala belakang. Afar menangis kencang. Aku dan kakak pun panik. Kakak menggendong afar, mengapa afar jadi kejang-kejang? Kakak memanggil suaminya yang saat itu baru pulang kerja. Matanya afar melirik ke atas, tubuhnya kejang-kejang, semua pun menjadi panik. Mas Agung (suami kakakku) pun menggendong afar dan membawa afar keluar rumah, ia memasukkan jari telunjuknya ke dalam mulut afar. Mas Agung pun meminta tolong pada tetangga dekat untuk segera membawanya ke rumah sakit. Dengan menggunakan motor, afar pun dilarikan ke klinik 24 jam dekat rumah. Kakakku pun menyusul dengan menggunakan motor diboncengi tetangga. Tak lama setelah azid selesai makan, aku menyusul mereka bersama azid. Aku dan azid sangat panik. Setiba di klinik 24 jam, aku langsung ke ruang dokter, terlihat afar sedang dibaringkan dalam posisi miring ke kanan, dokter mengompres tubuh afar dengan air dingin agar afar sadar, suster membantu memasukkan sendok ke dalam mulut afar. Suasananya begitu terharu. Tampak semua yang ada diruang dokter memanggil afar, mencoba membuat afar sadarkan diri, segala macam perkataan untuk membuat afar sadar telah dilakukan, seperti “afar, kita main laptop yuk..” ada juga yang bilang, “afar, nonton Mimi Kelinci lagi ya.. afar kan suka nonton”, ada juga, “afar kita ke rumah eyang dan mbah yuk.. kita main lagi nanti”, dan juga, “afar, katanya mau ke Amazon (tempat bermain), ayo bangun nak..” perkataan telah diulang-ulang, tetapi afar tetap diam saja dengan tubuh yang masih kejang, gemetaran. Dokter pun berkata, siapkan mobil saja, karena sudah lewat dari lima belas menit. Mas Agung pun menyiapkan mobil, mencarter angkot yang terlintas didepan klinik tersebut. Lalu, mereka membawa afar ke rumah sakit daerah Islamic Village, dokter pun ikut mengantarkan. Diperjalanan, mereka masih berusaha membuat afar sadar dengan segala tindakan. Mobil pun melaju dengan sangat cepat agar afar bisa cepat tiba di rumah sakit. Sempat sesekali afar nangis, tapi cuma sebentar. Dalam hati, aku berdo’a agar keponakanku tak apa-apa. Air mata menetes membasahi pipiku melihat afar masih tak sadarkan diri. “Ya Allah...tolonglah keponakanku...”
Setiba dirumah sakit, afar langsung masuk UGD. Dokter memeriksa keadaan afar yang masih tak sadarkan diri. Aku menghubungi semua keluarga terdekat, aku membantu menjaga azid. Setelah selesai diperiksa dokter, tampak afar masih berbaring ditempat tidur dengan infusan dan alat bantu bernafas lewat hidungnya. Tak tega aku melihat anak seusia 2 tahun sakit seperti itu. Aku sangat sedih melihatnya. Kebetulan saat itu waktu maghrib, aku mengajak azid untuk shalat maghrib di Mushallah rumah sakit, berdo’a untuk afar. Seusai shalat, kami kembali ke ruang UGD untuk melihat keadaan afar. Kira-kira setelah isya, afar dipindahkan ke ruang perawatan dilantai 2, kelas VIP. Tapi kami masih menunggu afar agar ia sadarkan diri. Semua keluarga berdo’a agar afar sadarkan diri, begitu juga denganku. Afar sadar pukul 23.20 WIB. Tapi ia masih harus menjalani pemeriksaan seluruh tubuhnya oleh dokter spesialis anak. “Ya Allah...sembuhkanlah penyakit afar..jagalah ia selalu dalam lindunganmu..sehatkanlah dia..aku rindu dengan kegemasan dan kelucuannya..kami semua sayang afar..aminnnn...”

0 komentar:
Posting Komentar