Arjuna memperhatikan banyak orang yang melintas didepannya. Pagi ini, ia harus menggantikan ayahnya yang sakit untuk mengojek didepan sekolah terkenal dengan agama Islam didaerah Jakarta.
“ayah elo sakit lagi, jun?” tanya seorang bapak yang agak tua dari belakang Arjuna, bang Joni.
“iya bang, ayah sakit-sakitan terus, maklum aja, ayah udah tua banget, lagipula punya penyakit diabetes, sedangkan bunda masih muda dan kerja dipabrik kue”
“elo masih tetap kuliah, kan? Jangan sampai gak kuliah, jun… umur elo masih muda dan elo kejar deh cita-cita elo bisa sampai sarjana” saran bang Joni.
“iya, bang… Arjuna udah semester 6, insya allah Arjuna bisa sampai sarjana, do’ain aja, bang…”
Seorang cewek bersama anak kecil menghampiri mereka. “ojek, bang…”
Arjuna terkejut melihat cewek yang berada didepannya. “cakep bener nih cewek…” sahutnya tanpa sadar.
“jun, elo kok diem aja, pergi sana, kejar setoran” celetuk bang Joni.
Arjuna masih saja melihat cewek dihadapannya dengan tegas. Bang Joni menepuk bahu Arjuna. “elo ngelamun, jun?”
Arjuna langsung tersadar. “oh iya, neng… ayo naik, mau diantar kemana?”
“blok G3, bang…” cewek bertubuh tinggi itu langsung membantu anak kecil yang kira-kira berumur 4 tahun untuk naik ke atas motor.
Sesampai didepan rumah dengan tipe 45, cewek itu pun turun dari motor bersama anak kecil berseragam olahraga itu. “nih, bang… makasih” cewek itu memberikan uang kepada Arjuna.
Anak laki-laki itu menarik tangan cewek manis yang penuh senyuman. “ayo masuk…”
“iya, sayang…” cewek itu pun masuk ke dalam rumah bersama anak laki-laki berkulit putih itu.
Wajah Arjuna seakan tak percaya. “gue gak boleh suka sama istri orang” Arjuna langsung meninggalkan kompleks perumahan elit itu.
Arjuna tiba ditempat pangkalan ojek. “bang Joni, cewek tadi itu sering ngojek ya?”
“iya, emang kenapa? Kok tiba-tiba elo tanya begitu? Dia bayarnya kurang? Setau gue, dia gak pernah bayar kurang, malah gue pernah dikasih uang lebihan sama dia”
“wajahnya manis dan gak ngebosenin, gue jatuh cinta pada pandangan pertama, bang…” aku Arjuna tanpa sadar.
“apa? Elo jatuh cinta sama istri orang? Yang bener aja, jun…” bang Joni terkejut.
“dia pengasuh, bukan orang tua dari anak kecil itu” celetuk bang Radit.
“pengasuh? Tau dari mana, bang? Penampilannya emang biasa aja sih, bang… tapi, wajahnya yang bener-bener membuat gue suka sama dia, bang…” Arjuna sangat terkejut.
Pagi-pagi sekali, Arjuna tiba didepan rumah cewek yang kemarin ia antar. Dari kejauhan, Arjuna mengamati rumah bercat hijau. Seorang cewek keluar dari rumah bersama anak laki-laki yang kemarin.
“anggrek, jangan lupa untuk membayarkan bayaran Dimas” seorang wanita yang sedang hamil membesar muncul dari pintu rumah.
“iya” cewek itu pun langsung mengucapkan salam. “assalamu’alaikum”
Dengan segera, Arjuna memunculkan dirinya dengan suara klakson motor. “ojek, neng?”
Cewek berkulit putih yang bernama Anggrek Larasati langsung menoleh ke belakang. “ojek, bang…” Anggrek membantu Dimas untuk naik kemotor, begitu juga dengan dirinya.
Sesampai didepan sekolah terkenal dengan agama Islamnya, Anggrek langsung turun dari motor bersama anak laki-laki yang bernama Dimas. “nih, bang… makasih ya”
Arjuna menggenggam tangan cewek itu dengan erat. Anggrek semakin takut dengan tukang ojek yang memiliki wajah ganteng didepannya. “bang, lepasin dong tangan saya” Anggrek berusaha melepaskan tangannya.
Seorang laki-laki pun menghampiri mereka. “Dimas, kamu kok belum masuk, sayang?”
Arjuna langsung melepaskan tangan Anggrek. Ia sangat terkejut. “makasih, neng” Arjuna segera meninggalkan tempat itu.
“ada apa, nggrek?” tanya seorang laki-laki.
“tukang ojek itu pegang tangan Anggrek saat Anggrek kasih uang ojek” ujar Anggrek.
“kamu gak usah naik ojek sama dia lagi, cari ojek yang lainnya, mas udah kenal baik dengan Pak Mustafa, kamu naik sama dia aja, dia kenal baik sama mas Anjar” jelas kakak ipar Anggrek.
“ayah, aku masuk sekolah dulu ya” Dimas memeluk ayahnya.
“mas mau berangkat ke kantor? Kok tumben lewat sini?” tanya Anggrek.
“tadi mas mampir ke toko bunga dulu, mau mengirimkan bunga buat teman mas yang menikah di Yogyakarta, mas gak bisa hadir, jadi kirim bunga aja” kakak ipar Anggrek mencium kening Dimas. “ayah berangkat kantor dulu ya”
Anggrek dan Dimas masuk ke dalam sekolah. Sementara itu, Arjuna tiba ditempat pangkalan ojek. Hatinya gelisah.
“elo kenapa, jun? Kayak orang gelisah” tanya bang Joni.
“gue pegang tangan cewek yang kemarin gue anter, bang… udah gitu, pas gue pegang tangannya, lakinya datang, mampus aja deh gue” cerita Arjuna.
Bang Joni terkejut, begitu juga dengan yang lainnya. “gila loh, jun… elo nekat amat sih? Kalau elo cinta sama dia, jangan begitu dong caranya, dia istri orang, masa’ mau elo ambil juga, jangan elo rusak dong rumah tangga dia”
“gue gak sadar, bang…”
Anggrek menghampiri pangkalan ojek didepan sekolah Dimas. “ojek dong, bang…” wajah Anggrek sangat jutek pada Arjuna.
Arjuna hanya terdiam. Ia merasa bersalah dengan sikapnya tadi pagi.
“ayo, neng…” celetuk bang Radit.
“maaf, bang… ada yang namanya Pak Mustafa, gak?” tanya Anggrek.
“ini anaknya Pak Mustafa, neng… emang kenapa, neng?” ujar bang Joni.
“ohh… ini anaknya, tapi kok anaknya kurang ajar, gak kayak bapaknya, baik dan sopan” celetuk Anggrek dengan wajah kesal.
“neng, soal yang tadi maaf banget ya, saya gak sengaja” ujar Arjuna.
Anggrek langsung naik ke motor bang Radit bersama Dimas. Bang Radit pun langsung mengendarai motornya. Sepanjang jalan, bang Radit mencari informasi tentang Anggrek.
“ini anak eneng, ya?” tanya bang Radit dengan logat bahasa Sunda.
“bukan, bang… ini keponakan saya, namanya Dimas, emang saya kelihatan kayak udah punya anak, ya? Saya masih muda lagi, bang… baru juga lulus SMU dan lagi kuliah” jelas Anggrek.
“saya kira, eneng ini ibunya atau pengasuhnya, begitu… wajah eneng masih muda banget, belum kayak ibu rumah tangga” bang Radit menghentikan motornya tepat didepan rumah bercat hijau.
Seorang wanita yang sedang hamil menunggu mereka teras. “Dimas…” wanita itu menghampiri Dimas.
Dimas pun langsung mengucapkan salam pada bundanya. “bunda, disekolah aku ada acara piknik, aku mau ikut” ujar Dimas polos.
Bang Radit memperhatikan Dimas dan bundanya. “neng, itu ibunya anak kecil itu?”
“iya, saya tantenya, adik bundanya Dimas” Anggrek tersenyum. “makasih ya, bang…” Anggrek memberikan uang kepada bang Radit. “assalamu’alaikum” Anggrek membuka pagarnya. Mereka pun masuk.
Arjuna menghampiri ayahnya yang sedang berbaring ditempat tidur. “gimana kondisi ayah?”
“agak baik, kamu gak apa-apa kan kalau masih menggantikan ayah jadi tukang ojek?”
“gak apa-apa, yah… aku senang membantu ayah” Arjuna tersenyum pada ayahnya. “oh iya, ayah kenal gak sama cewek yang sering nganterin anak kecil ke sekolah, ceweknya masih muda, rumahnya dikompleks sebelah, blok G nomer 3”
Ayahnya terdiam. Ia berusaha untuk mengingat. “oh… Anggrek? Anak kecil itu namanya Dimas, dia anaknya Pak Anjar sama Bu Zaskia, emangnya kenapa?”
“anak kecil itu anaknya, ya?”
“Anggrek itu tantenya Dimas dan adiknya Bu Zaskia”
“jadi, cewek yang namanya Anggrek itu bukan istri orang?”
“ya jelas bukan, Anggrek itu masih muda banget, dia kan baru lulus SMU, sekarang kuliah dikampus dekat sini juga, Pak Anjar sering langganan ojek sama ayah, jadi, ayah tau banget”
Arjuna tersenyum. “makasih, yah…” Arjuna sangat senang kalau selama ini ia tidak jatuh cinta dengan istri orang, melainkan cewek yang masih sangat muda dan baru lulus SMU.
Arjuna tersenyum. Ia melihat Anggrek dari kejauhan ingin menghampiri pangkalan ojek.
“ojek, bang…” celetuk Anggrek.
“boleh kenalan, gak?” Arjuna berdiri dihadapan Anggrek.
Anggrek sangat terkejut. “kenalan?”
“ini tante aku, tau… om kan udah punya anak, jadi gak boleh kenalan sama tante aku” celetuk Dimas marah.
“hai… kamu pasti Dimas, nama om adalah om Arjuna, om kuliah udah D3, om kuliah ambil S1 jurusan Teknik Informatika, jadi, kamu gak perlu khawatir kalau om mendekati tante kamu, om cowok baik, om gak mungkin menjahati tante kamu, sayang…” Arjuna berjongkok didepan Dimas.
Dimas menggandeng tantenya. “tante Anggrek, Dimas izinin tante untuk kenalan sama om Arjuna”
Anggrek hanya tersenyum melihat tingkah laku keponakannya yang sangat pintar dan polos. “nama saya Anggrek”
“tante, ayo pulang…” celetuk Dimas.
“aku Arjuna” balas Arjuna dengan senyuman. “aku antar ya” Anggrek dan Dimas naik ke motor Arjuna.
Motor Arjuna tiba didepan rumah Anggrek. Mereka pun turun dari motor.
“bunda…” Dimas langsung memeluk bundanya yang berada diteras. “bun, tadi aku diperiksa dokter gigi, aku gak takut” Dimas mengajak bundanya masuk ke dalam rumah.
“nih uangnya” Anggrek memberi uang pada Arjuna.
“gak usah, nggrek… aku ikhlas nganterin kamu”
“biar kita udah kenal, tapi tetap, saya harus kasih kamu uang” Anggrek memaksa arjuna untuk menerima uangnya.
“makasih…”
“saya masuk dulu ya” ketika Anggrek hendak masuk, Arjuna pun memegang tangan Anggrek.
“nggrek, kamu udah punya pacar?” tanya Arjuna.
Anggrek menoleh. “kenapa? Kok tanya begitu?”
“jujur ya, sejak pertama kali aku lihat kamu, aku jatuh cinta sama kamu, aku pikir, kamu udah berumah tangga, tapi, ternyata, aku salah besar, maafin aku ya… wajah kamu gak ngebosenin dan kamu sangat sederhana” ujar Arjuna.
Anggrek melepaskan tangan Arjuna. “ayah kamu sakit, ya? Salam ya semoga cepat sembuh… kakak ipar saya cerita tentang keluarga kamu”
“kamu gak malu kan kalau mengenal keluarga aku? Kamu mau gak jadi pacar aku?” tanya Arjuna.
“semua itu terlalu cepat, jun… kita jalanin semuanya aja, yang jelas, saya senang bisa kenal kamu” Anggrek tersenyum manis.
0 komentar:
Posting Komentar